AI dalam Perspektif Tauhid : Alat atau Ancaman?


Di zaman yang dipenuhi algoritma dan data, manusia berdiri di persimpangan sejarah. Di satu sisi, kita menyaksikan kemajuan luar biasa: mesin yang bisa berpikir, berbicara, bahkan menulis seperti manusia. Di sisi lain, muncul kegelisahan: apakah kita sedang menciptakan sesuatu yang akan menggantikan kita?

Pertanyaan ini bukan sekadar teknis. Ia menyentuh akar terdalam dari iman: tauhid. Di tengah gemuruh teknologi, seorang Muslim bertanya: apakah AI adalah alat yang bisa dimanfaatkan untuk kemaslahatan, atau ancaman yang menggerus kemanusiaan dan menyaingi ciptaan Allah?

Tauhid : Fondasi Pandangan Muslim terhadap Teknologi

Tauhid bukan hanya keyakinan bahwa Allah Maha Esa. Ia adalah lensa yang membingkai seluruh realitas. Dalam Islam, segala sesuatu yang ada di alam semesta adalah ciptaan Allah dan tunduk kepada-Nya.

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

"Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu."(QS. Az-Zumar: 62)

Maka, AI bukan entitas otonom. Ia adalah hasil dari akal manusia—dan akal itu sendiri adalah karunia dari Allah. Menjadikan AI sebagai ancaman yang menyaingi Tuhan adalah bentuk penyimpangan tauhid. Namun, menggunakannya tanpa etika dan tanggung jawab juga bisa menjadi bentuk pengkhianatan terhadap amanah.

AI : Ciptaan Manusia, Bukan Pengganti Manusia

AI tidak memiliki ruh. Ia tidak bisa merasakan, tidak bisa bertanggung jawab, dan tidak bisa berdoa. Ia hanya menjalankan perintah berdasarkan data dan algoritma. Dalam filsafat Islam, akal bukan sekadar logika, tapi juga sarana memahami wahyu dan membedakan yang hak dari yang batil.

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِندَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ

"Sesungguhnya makhluk yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang tuli dan bisu yang tidak menggunakan akalnya." (QS. Al-Anfal: 22)

AI tidak memiliki akal dalam pengertian ini. Maka, ia tidak bisa menjadi pemimpin, tidak bisa menjadi penentu moral, dan tidak bisa menggantikan manusia sebagai khalifah di bumi.

AI sebagai Alat : Potensi Kemaslahatan

Jika digunakan dengan hikmah, AI bisa menjadi alat dakwah, pendidikan, dan pelayanan umat. Contohnya:
  • Aplikasi Al-Qur’an digital
  • Chatbot Islami untuk konsultasi ibadah
  • Sistem wakaf berbasis blockchain
  • Deteksi arah kiblat otomatis
Islam mendorong umatnya untuk menguasai ilmu dan teknologi :

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

"Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu." (QS. Taha: 114)

Namun, ilmu harus dibingkai oleh iman. Tanpa tauhid, teknologi bisa menjadi berhala baru.

AI sebagai Ancaman : Ketika Etika Ditinggalkan

Bahaya AI bukan terletak pada mesinnya, tapi pada manusia yang mengendalikannya. Ketika AI digunakan untuk manipulasi, pengawasan massal, atau propaganda, ia menjadi alat penindasan. Ketika manusia tunduk pada mesin dan kehilangan akal serta hati nurani, maka ia telah kehilangan kemuliaannya sebagai khalifah.

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ

"Maka apakah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?" (QS. Al-Jatsiyah: 23)

AI bisa menjadi ancaman jika manusia menjadikannya sebagai penentu kebenaran, menggantikan wahyu dan akal yang tercerahkan oleh iman.

Penutup : Manusia yang Membingkai Teknologi, Bukan Sebaliknya

AI adalah alat. Ia bisa menjadi berkah jika digunakan dengan akal dan makrifat, atau menjadi bencana jika dilepaskan dari etika dan tauhid. Islam tidak melarang teknologi, tapi menuntut agar teknologi tunduk kepada nilai-nilai ilahiah.

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

"Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah."

Maka, seorang Muslim tidak takut pada AI. Ia takut pada dirinya sendiri jika ia lupa bahwa ia adalah hamba, bukan pencipta. AI bukan ancaman jika manusia tetap memimpin dengan cahaya wahyu.